Usai Debat Perdana, Begini Posisi WH-Andika

Typography

JAKARTA, RadarPena.com - Suhu politik jelang pemungutan suara pemilihan kepala daerah serentak 2017 termasuk Provinsi Banten yang akan digelar pertengahan Februari ini makin memanas. Meningkatnya suhu politik juga disebabkan akan dan telah digelarnya debat terbuka oleh KPU. Salah satu daerah yang telah satu kali menjalani debat terbuka yakni Banten. Masing-masing calon saling berdebat soal program dan kebijakannya.

Pengamat politik UIN Jakarta, A Bakir Ihsan menilai debat cagub yang diadakan KPU sangat positif apalagi debat terbuka juga disiarakan melalui televisi, sehingga masyarakat dapat melihat program kerja dari para calon gubernur dalam jangka waktu lima tahun. "Masyarakat bisa lebih banyak tahu cagub, jadi calon yang visi misinya jelas dan dapat meyakinkan publik dengan menguasai jalannya debat terbuka maka akan lebih mudah memenangkan hati pemilih," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (12/1).

‎Lantas bagaimana dengan penilai debat terbuka perdana yang telah digelar KPU Banten terhadap pasangan calon, pengamat politik dan periset opini publik dari Lembaga Survei Stratak Indonesia, Octarina Soebardjo menilai pasangan WH-Andika ‎lebih mengusasi persoalan dan solusinya lebih diterima. Ini menandakan kemungkinan peluang menang pasangan WH-Andika sangat tinggi. "Penguasaan persoalan ini berdampak elektabilitas terus naik, tren kenaikan eletabilitas semakin ke sini semakin naik tak terbendung," paparnya.

Dia mengutip hasil riset yg dilakukan lembaganya, bahwa banyak pendukung Rano-Embay beralih ke WH-Andika karena nyaris tak pernah bersentuhan sama sekali dengan simpatisan teroganisir. "Jadi paslon yang didukung nggak pernah nongol, sementara lawannya hadir berulang," tutupnya.

Diketahui, ‎dalam debat perdana yang digelar Komisi Pemilihan Umum Banten dan disiarakan langsung salah satu televisi swasata nasional, Selasa malam ( 27/12) itu mengangkat topik Pelayanan Publik, Kesejahteraan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan. KPU Banten menunjuk tim pakar untuk memilih dua moderator, yakni Komaruddin Hidayatdari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Zainal Arifin Mochtar dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.(alan jhon)