Kibijakan Golongan Listrik Jadi 4.400 VA Picu Inflasi

Typography

JAKARTA, RadarPena.com - Rencana Pemerintah untuk menyederhanaan golongan daya listrik oleh terus menuai polemik. Di sisi lain, Kementerian ESDM mengklaim kebijakan itu menguntungkan pelanggan. Namun, kebijakan tersebut dianggap kedok untuk mengkatrol tarif listrik kepada pelanggan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan penyederhanaan golongan listrik dikhawatirkan bisa berdampak kepada perekonomian. Diperkirakan inflasi pada 2018 mendatang melonjak di atas 4 persen. Itu artinya, target inflasi yang dipatok dalam RAPBN 2018 tidak akan tercapai.

"Jika kebijakan ini terus dilanjutkan, saya khawatir inflasi bisa meroket di atas 4 persen pada tahun depan. Itu di atas asumsi makro APBN 2018 sebesar 3,5 persen," ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (14/11).

Di samping itu, perbaikan terhadap daya beli yang terus menurun juga bisa sulit terealisasi. Sebab, konsumsi masyarakat akan menurun karena inflasi terhadap sejumlah kebutuhan pokok.

"Itu kontraproduktif terhadap upaya perbaikan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Konsumsi masyarakat bahkan bisa terus turun karena kenaikan pendapatan tergerus inflasi dari harga yang diatur pemerintah (administered price)," tandasnya. 

Sebelumnya, pemerintah akan melakukan penyederhanaan golongan daya listrik kepada pelanggan golongan 900 VA nonsubsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA menjadi 4.400 VA. Sedangkan golongan 450 VA dengan pelanggan sebanyak 23 juta rumah tangga dan golongan 900 VA dengan pelanggan 6,5 juta rumah tangga yang disubsidi oleh pemerintah, tidak mengalami perubahan. Begitu juga dengan tarif listrik yang disebut tidak akan melonjak naik.

Sementara golongan 4.400 VA hingga 12.600 VA dinaikkan dan ditambahkan dayanya menjadi 13.000 VA, dan golongan 13.000 VA ke atas dayanya akan di-loss stroom. Kebijakan penyederhanaan golongan daya listrik diperkirakan jalan pada Juni 2018. (cr4/ce1/JPC)