BPS: Harga Beras Sumbang Inflasi 0,19 Persen

Typography

JEMBER, RadarPena.com - Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jember untuk indeks harga konsumen selama Desember 2017 lalu. Kenaikan harga beras di akhir tahun itu masih menjadi pemicu kenaikan inflasi di Kabupaten Jember. Sehingga, perlu antisipasi lain agar harga tidak semakin liar.

"Data dari BPS Jember, komoditas beras menyumbang inflasi 0,19 persen. Harga beras terus merangkak naik pada bulan Desember 2017,” kata Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Candra Birawa di Kantor BPS, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, kenaikan harga beras memicu laju inflasi pada Desember 2017 di Jember sebesar 0,66 persen. Ini ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari November 2017 sebesar 126,05 persen. Kemudian naik menjadi 126,88 persen pada Desember 2017.

”Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar yakni beras yang memberikan andil 0,19 persen terhadap inflasi,” katanya. Apalagi, diketahui di akhir tahun harga beras kualitas premium bahkan mencapai Rp 13 ribu per kilogram di pasar tradisional. Inilah yang menurutnya menjadi penyumbang terbesar.

Komoditas beras pada 2017 menjadi pemicu inflasi dan menempati urutan ketiga, harga beras merangkak naik cukup tinggi pada tiga bulan terakhir 2017 karena biaya produksi petani naik, dan harga gabah kering panen (GKP) pada tingkat petani tercatat tinggi , yakni berkisa Rp 4.300 hingga Rp 4.900 per kilogram

Bahkan, kegiatan operasi pasar yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) berkoordinasi dengan pemerintah daerah belum berhasil mengendalikan harga komoditas beras di pasaran. Operasi pasar kurang efektif untuk menurunkan harga beras karena kemampuan pemerintah melalui Bulog hanya 10 persen dan sisanya 90 persen dikuasai oleh swasta. “Sehingga untuk mempengaruhi turunnya harga beras agak susah,” jelasnya.

Ternyata, ini bukan hanya terjadi di Jember tetapi beras justru menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi pada Desember 2017. “Di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Malang, Probolinggo, Madiun, Surabaya, bahkan di Jawa Timur juga inflasi tertinggi karena beras,” tuturnya.

Selama 2017, lanjut dia, komoditas beras menjadi penyumbang inflasi selama beberapa bulan seperti Januari, Februari, April, Juli, Oktober, November, dan puncaknya penyumbang tertinggi pada Desember 2017.

Selain beras, lanjut dia, beberapa komoditas penyumbang inflasi di antaranya telur ayam ras, daging ayam ras, tarif kereta api, wortel, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, tomat, bawang merah, dan bensin.

“Pengaruh musim yang buruk sepanjang bulan ini dengan curah hujan yang ekstrim,” jelasnya. Selain itu, ada peningkatan permintaan masyarakat yang tinggi karena bertepatan dengan Maulid Nabi SAW, perayaan Natal dan tahun baru 2018. hal ini menyebabkan harga beberapa komoditas kelompok makanan mengalami kenaikan.

Sebenarnya tidak semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Namun, ada sejumlah komoditas yang menekan inflasi karena mengalami deflasi di Desember 2017. Diantaranya jagung muda, apel, anggur, emas, ikan asin belah, udang basah dan merica. Sehingga nilai inflasi Jember meskipun tinggi tidak setinggi bulan yang sama tahun 2016 yang lalu.

“Alhamdulillah inflasi ini dapat ditekan dan tidak sebesar tahun lalu sebesar 0,93 persen,” jelasnya. Jember selama Desember ini menempati urutan ketiga di Jawa Timur yakni dibawah Kota Surabaya sebesar 0,85 persen, diikuti Kota Probolinggo sebesar 0,69 persen.

Berikutnya disusul Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,60 persen, diikuti Kota Malang sebesar 0,49 persen, Kota Madiun sebesar 0,47 persen, Kabupaten Sumenep sebesar 0,43 persen, dan inflasi terendah di Kota Kediri sebesar 0,43 persen.

Sementara itu, laju inflasi Jember pada Desember 2017 lebih rendah dibandingkan Jawa Timur yang mengalami inflasi sebesar  0,70 persen dan nasional mengalami inflasi sebesar 0,71 persen. “Untuk inflasi tahun kalender di Jember sebesar 3,52 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 4,04 persen, serta nasional sebesar 3,61 persen,” pungkasnya. (jr/ram/hdi/das/JPR/JP)