Sidang Perdana Setnov Digelar 13 Desember

Typography

JAKARTA, RadarPena.com - Sidang perdana kasus korupsi dalam pengadaan E-KTP dengan tersangka Ketua DPR RI Setya Novanto (Setnov) diagendakan berlangsung 13 Desember 2017. "Sudah ditetapkan waktu persidangannya yaitu hari Rabu tanggal 13 Desember 2017, penetapannya pukul 09.00 WIB," kata juru bicara Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Ibnu Basuki Wibowo di Jakarta, Kamis (7/12).

Setya Novanto dan pengacaranya sedang mengajukan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang perdananya berlangsung Kamis (7/12) dan putusannya akan dibacakan pada Kamis (14/12) sore. Berdasarkan pasal 82 ayat 1 huruf (d) UU 8 tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh pengadilan negeri sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan praperadilan tersebut gugur. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 102/PUU-XIII/2015 pengertian "perkara sudah mulai diperiksa" adalah saat pokok perkara disidangkan.

Majelis hakim yang menyidangkan perkara Setya Novanto akan diketuai oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Yanto dan beranggotakan hakim Frangki Tambuwun, Emilia Djajasubagja, Anwar dan Ansyori Syaifudin.

Keempat anggota majelis yang akan mengadili perkara Setya Novanto adalah hakim yang mengadili perkara E-KTP dengan terdakwa mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman, mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan  Kementerian Dalam Negeri Sugiharto dan pengusaha Andi Narogong.

"Justru kalau kalau perkara yang sama di-split itu relatif hakim yang telah menangani perkara tersebut itu dianjurkan kembali menangani seperti itu karena relatif lebih menguasai perkara, kecuali ada hal khusus seperti Pak Jhon Halasan yang sebagai hakim tinggi Pontianak nah diganti langsung oleh ketua pengadilan Pak Yanto," ungkap Ibnu.

Dia menjelaskan bahwa pemilihan susunan majelis hakim adalah hak prerogatif Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dia juga mengatakan bahwa pengadilan sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menjaga keamanan selama persidangan nanti.

"Kalau teror dan ancaman kita pasrahkan saja kepada Polri, ada yang namanya petugas keamanan, yang jelas pengadilan bersidang sesuai dengan aturan yang ada, sedangkan soal keamanan dari Polri," papar Ibnu. Sebelumnya, Yanto menjabat sebagai ketua Pengadilan Negeri Denpasar sebelum ditempatkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.