Pemerintah Matangkan Penulisan Penghayat Kepercayaan di e-KTP

Typography

JAKARTA, RadarPena.com - Pemerintah terus mematangkan penerapan penulisan status aliran kepercayaan di kolom agama e-KTP. Ini dilakukan agar dikemudian hari tidak ada lagi perubahan data di e-KTP.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakhrullah mengatakan, pemerintah memiliki opsi dalam penulisan aliran penghayat kepercayaan. Kemungkinan, kata dia, nantinya tidak ditulis secara mendetail.

Zudan mengatakan, pemerintah sudah memperhitungkan opsi teknis penulisan status aliran kepercayaan di e-KTP para penghayat kepercayaan. Hal ini karena bila dimasukkan nama alirannya, tidak ada yang menjamin apakah kelompok aliran kepercayaan itu bisa bertahan lama atau malah bubar.

"Kalau begitu (ada perubahan), maka harus berganti juga data di KTP elektroniknya. Hal ini yang menjadi pertimbangan pemerintah bila ingin memasukkan nama kelompok penghayat ini," kata dia di Kemendagri, Selasa (14/11).

Dia mencontohkan ormas Islam yang saat ini ada di Indonesia. Dalam hal itu, pemerintah memasukan agamanya, bukan nama ormasnya. "Kan tidak bisa dimasukkan nama organisasinya. Sifat organisasi ini dinamis sehingga kami lebih memilih opsi mencantumkan secara umum penghayat kepercayaan ini," ujar Zudan.

Sehingga lanjut dia, opsi penulisan identitas aliran kepercayaan di kolom agama bagi para penghayat kepercayaan sudah mulai mengerucut kepada dua bentuk. Adapun bentuk yang dimaksud adalah “kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” atau “penghayat kepercayaan”.

Menurut dia, usulan tersebut sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyarankan teknis penulisan aliran kepercayaan yang dianut oleh warga di kolom agama e-KTP tidak harus ditulis secara spesifik. Meski demikian, kata Zudan, dua opsi penulisan di atas belum menjadi keputusan final pemerintah.

"Masih kami diskusikan terus dengan sejumlah pihak terkait. Opsi penulisannya memang mengerucut kepada dua hal itu," tutur dia.

Dia juga menyebut jumlah warga negara Indonesia yang mencatatkan diri sebagai penghayat kepercayaan sebanyak 138.791 orang. "Yang menuliskan jenis kepercayaannya itu ada 138.791, terhitung data per 30 Juni 2017. Jumlah ini nanti pasti akan cepat melonjak karena selama ini penghayat kepercayaan itu ada yang menuliskan Buddha, Kristen, dan Islam dalam data kependudukannya," papar dia.

Jumlah itu, kata dia, terhitung sedikit dibandingkan dengan data penduduk yang mencatatkan diri sebagai penganut enam agama resmi di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.(jawapos)