Kemenristekdikti: Mahasiswa Jurusan Ini Harus Diperbanyak

Typography

PADANG, RadarPena.com - Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Intan Ahmad mengatakan bahwa, program-program studi yang relevan dengan target pembangunan saat ini, harus diperbanyak mahasiswanya. Seperti program studi sains, ilmu rekayasa dan teknologi. Sementara program studi sosial tertentu bisa dikurangi kuota penerimaan mahasiswana.

"Tapi tetap harus kaji juga. Kami tak bisa serta merta kurangi. Namun yang dibutuhkan mana," kata Ahmad usai seminar di Universitas Negeri Padang (UNP), Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (7/12).

Ahmad mengungkapkan dari 1,5 juta calon mahasiswa baru (maba) di Indonesia setiap tahunnya, hanya 400 ribu orang yang terserap oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sisanya, satu juta lebih maba harus melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). "Yang mesti diingat, ekonomi kita butuh lulusan bagus. Jadi baiknya program studi tertentu dibatasi," tukas Ahmad.

Terkait dengan kuota maba di PTN, masyarakat tidak perlu cemas. Pasalnya, persoalan kuota penerimaan maba sudah diatur dalam UU tentang Pendidikan Tinggi. Pembagian penerimaan maba oleh PTN sudah terbagi.

Yakni, dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan seleksi mandiri. Masing-masing memiliki porsi dinamis dengan angka maksimum 30 persen, ditambah 20 persen dari keluarga ekonomi lemah.

Ahmad menegaskan, pengurangan kuota maba di PTN tak bisa dilakukan begitu saja lantaran harus mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Di sisi lain, Indonesia harus mampu berkompetisi dengan negara di ASEAN dalam menelurkan sarjana yang berkualitas.

"Kalau tak bisa kompetisi, banyak pekerja asing. Kalau kuota dikurangi, sementara pembangunan harus jalan, kan ada tenaga kerja asing jadinya," ujar Ahmad.

Ahmad mengapresiasi kampus-kampus unggulan di Indonesia yang mampu menghasilkan lulusan berkualitas dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan. Menurutnya, kebijakan yang adil justru memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi berakreditasi bagus untuk menambah kuota mahasiswa. Sementara kampus yang tak bisa meningkatkan mutunya, bisa saja tak mendapat kesempatan untuk menambah kuota mahasiswa baru.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyetujui usulan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) terkait pembatasan jumlah penerimaan maba PTN. Menurut Jokowi, PTN harus fokus pada kualitas lulusan dan pendidikan saat melakukan penerimaan maba. Sebab terdapat PTN yang memiliki lebih dari 40 ribu mahasiswa.

"Saya setuju dengan pak Budi (Ketua Aptisi) menyampaikan (mahasiswa) perguruan tinggi memang harus dibatasi," kata Jokowi saat menutup Rembuk Nasional APTISI di Universitas Esa Unggul beberapa waktu lalu. (rcc/JPC/JP)