Top News

MALANG, RadarPena.com - Kabupaten Malang, Jawa Timur menawarkan banyak destinasi wisata yang menarik. Salah satunya Jurang Toleh. Destinasi ini berlokasi di Bon Klopo, Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung.

Jurang Toleh mengandalkan pesona danau plus taman. Selain itu, juga terdapat beberapa spot foto yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Contohnya saja bentuk sayap kupu-kupu yang instagramable.

Wisata ini semakin menjadi idola ketika menampilkan aneka spot foto, terutama bagi para generasi muda. Pengunjung juga bisa melalui panggung tanjakan yang akan disuguhkan pemandangan indah.

Ingin berdandan ala Indian? Bisa! Wisatawan bisa menyewa topi apache lengkap beserta dengan bajunya hanya dengan merogoh kantong sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Kepala Desa Jatiguwi, Enggar, menjelaskan, wisata ini baru dibuka Agustus 2017 lalu. Pengelolaannya diserahkan kepada karang taruna setempat.

Alasannya, sejak awal dibangun, pihak desa memang konsen untuk memiliki tempat wisata di wilayahnya. Terlebih, danau yang pada mulanya hanya digunakan warga sebagai tambak, akhirnya dimanfaatkan untuk memikat minat wisatawan.

"Baru diresmikan Agustus lalu, usai lebaran. Antusiasme pengunjung cukup bagus," kata Enggar beberapa waktu lalu. Enggar menjelaskan, meskipun baru dibuka menjadi destinasi wisata, namun pengunjung sudah mencapai ratusan. Apalagi ketika hari libur.

Wisatawan juga tidak dipungut biaya masuk, hanya membayar uang parkir sebesar Rp 2 ribu. "Bukan hari libur juga banyak yang mengunjungi. Apalagi siswa TK dan SD juga kerap berwisata rombongan ke sini," bebernya.

Traveler, tidak perlu khawatir akan kelaparan di destinasi wisata ini. Pasalnya, sudah banyak pedagang makanan. Misalnya saja, bakso, jagung bakar, gorengan hingga minuman dingin. Makanan atau minuman yang telah dibeli semakin nikmat jika disantap bersama keluarga atau teman-teman di gazebo yang berdiri di tengah-tengah kawasan wisata tersebut.

Mengunjungi lokasi ini cukup mudah, menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Jika dari Kota Malang, menuju ke selatan ke Kepanjen, Kabupaten Malang. Selanjutnya, mengarah ke Sumberpucung. Sekitar 500 meter sebelum Kecamatan Sumberpucung belok ke kiri dan ikuti jalur yang ada. Traveler tak perlu bingung, karena nanti setelah belok kiri tinggal ikuti jalan saja dan sudah ada petunjuk arah menuju kawasan wisata Jurang Toleh. (jawapos)

SURABAYA, RadarPena.com - Momen libur Natal dan Tahun Baru 2018 Kenjeran Park mulai dibanjiri wisatawan pelajar. Obyek wisata pinggir laut itu pada akhir pekan didominasi oleh siswa maupun siswi SD dan SMP seusai ujian sekolah.

Warga lokal yang memanfaatkan waktu senggang turut mendongkrak kunjungan ke kawasan wisata di timur laut Surabaya itu. Manager Kenpark Jing Jing mengatakan, peningkatan pengunjung pada akhir 2017 dapat mencapai 5.000 wisatawan. Berbeda jika dibanding hari biasa mencapai 2.000 orang.

''Ya lumayan. Sudah mulai ramai. Terutama siswa SD yang baru saja menyelesaikan ujian sekolah,'' kata Jing, Senin (11/12). Wisatawan luar daerah juga menyumbang naiknya pengunjung jelang tutup tahun. Mereka berasal dari Bandung, Semarang, Jombang , dan Lamongan.

''Wisatawan mancanegara juga ada. Bisa sampai tiga orang. Biasanya mereka menyasar ke pantai,'' terang Jing. Di sisi lain, saat JawaPos.com menyusuri Kenpark sampai ujung dermaga, keadaannya cukup lengang. Hanya kurang dari lima wisatawan yang terlihat menikmati pemandangan laut di pinggir dermaga persewaan perahu.

Banyak perahu yang bersandar karena sepi penumpang. Sejumlah wahana juga tutup kecuali motel. Slamet Ma'aruf, warga Kenpark, menuturkan sepinya pengunjung lebih disebabkan oleh hujan yang mengguyur sejak siang. Selain itu, memang bukan hari libur. ''Cuma karena hujan dan bukan hari libur, pasti ya sepi,'' kata Slamet.(jawapos)

SIBETAN, RadarPena.com - Aktivitas Gunung Agung belum berhenti. Namun Kabupaten Karangasem masih aman untuk dikunjungi untuk wisata. Salah satunya adalah Desa Wisata Sibetan, Kecamatan Bebandem. 

Koordinator Bali Sibetan Volunteer & Learning Centre Ida Bagus Ketut  Puja mengatakan, meskipun aktivitas Gunung Agung masih mengalami peningkatan, namun Desa Sibetan yang berlokasi 12 Km dari Gunung Agung masih sangat aman untuk dikunjungi. 

Datang ke Desa Sabetan, lanjut Puja, wisatawan tidak saja disajikan dengan pemandangan Gunung Agung yang masih aktif, namun banyak hal yang bisa dinikmati. Salah satunya adalah alam pedesaan dan menjelajahi kebun salak yang hingga saat ini masih produktif, meskipun beberapa waktu lalu sempat terkena abu vulkanik dari aktivitas Gunung Agung.

Dalam aktivitas wisata yang dikemas dalam bentuk Salak Agro Trekking ini, wisatawan akan diajak mengelilingi perkebunan Salak milik warga Desa Sibetan. "Di perkebunan Salak ini, wisatawan selain mendapat pengetahuan tentang salak Sibetan, dan jika sedang musim salak, wisatawan juga bisa langsung memanen dan menikmati salak langsung dari pohonnya," ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Setelah dari perkebunan Salak, wisatawan juga akan diajak  melihat pabrik pengolahan buah Salak paska panen, yakni proses pembuatan Wine Salak dan Kopi Salak. 

Setelah puas memetik Salak dan mencicipi hasil olahan buah Salak, perjalanan kemudian dilanjutkan ke areal perbukitan yang dikenal dengan nama Puncak Nirwana yang berada di sisi utara Desa. Bukit Nirwana ini dijelaskan Puja tidak lain adalah Bukit Nampo yang karena keindahannya sering kali disebut sebagai Bukit Nirwana. 

Selain itu, bukit ini mendapat sebutan Bukit Nirwana karena dari perbukitan ini, wisatawan bisa menikmati indahnya pemandangan Gunung Agung yang sedang aktif.

Aktivitas Gunung Agung, lanjut   Puja, menjadi salah satu aktivitas yang indah untuk dinikmati. "Dari Puncak  Bukit Nirwana ini wisatawan bisa menyaksikan secara langsung keindahan dan keagungan Gunung Agung dari jarak yang dekat. Bukit Nirwana  juga bisa menjadi spot foto yang cantik, " paparnya.

Setelah dari puncak Nirwana, wisatawan akan diajak kembali ke desa untuk menikmati makan siang dengan menu masakan khas Desa Sibetan. "Sambil menikmati makan siang, wisatawan bisa melihat aktivitas perkebunan organik yang juga merupakan bagian dari aktivitas wisata Desa Sibetan," tambahnya.

Aktivitas lain yang juga bisa dinikmati di Desa Wisata ini adalah berkemah, khususnya bagi wisatawan yang sengaja datang untuk menginap di Desa Sibetan. Setelah menikmati malam dan dinginnya udara lereng Gunung Agung, di pagi hari wisatawan bisa melanjutkan aktivitas pagi dengan jogging di trek yang sudah disediakan.

Trek joging ini berlokasi di areal persawahan Desa Sibetan,sehingga dapat menghirup udara pagi yang segar  sekaligus   menikmati indahnya pemandangan Gunung Agung di pagi hari.

“Aktivitas pagi ini ditutup dengan sarapan bersama. Untuk sarapan ini, kami akan ajak wisatawan untuk membeli sarapan di pasar desa dan memberikan sensasi menikmati sarapan di warung atau di pasar desa seperti yang dilakukan masyarakat pada umumnya,” tambahnya.

Selain berwisata,  wisatawan juga bisa membeli beberapa jenis oleh-oleh khas Desa Sibetan. Mulai dari produk olahan Salak, seperti dodol salak, kopi biji salak, kripik salak, dan beberapa jenis produk makanan lainnya. 

Berwisata ke Desa Sibetan, wisatawan juga bisa membeli satu jenis minuman khas Sidemem, yakni Sajeng. "Sajeng ini adalah tuak, tuak seperti yang diketahui merupakan salah satu jenis minuman khas Bali yang berasal dari pohon enau yang memiliki kadar alkohol rendah," jelasnya.

Selain digunakan sebagai sarana upakara, jika diminum dalam jumlah tertentu, lanjut Puja, dapat berfungsi sebagai minuman penghangat badan bagi orang yang tinggal di desa yang yang cuacanya dingin seperti Desa Sibetan.

Meskipun merupakan minuman tradisional, namun di Sibetan, tuak atau Sajeng ini dikemas dalam kemasan yang cantik dan lebih modern. Sehingga tingkat kebersihannya  sangat terjamin. 

Puja mengatakan  sengaja mengemas tuak atau Sajeng ini dalam kemasan yang modern, yakni menggunakan botol beling. " Pangsa pasar dari Sajeng ini  bukan hanya pasar lokal saja,  tetapi juga menyasar pasar wisatawan asing yang datang ke Sibetan," tambahnya. (jawapos)

JAKARTA, RadarPena.com - Tiga warisan dokumenter Indonesia kembali mendapat pengakuan UNESCO sebagai ingatan dunia atau Memory of the World.

 

Yaitu arsip konservasi Borobudur, arsip tsunami Samudera Hindia, serta naskah cerita Panji.

 

Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof Arief Rachman mengatakan, arsip konservasi Borobudur digagas Balai Konservasi Borobudur di bawah Kemendikbud.

 

Warisan dokumenter ini adalah proyek konservasi terbesar abad 20 yang didanai dunia internasional.

 

Ini menjadi proyek pertama menggunakan teknik modern untuk konservasi monumen.

 

"Pengakuan internasional terhadap arsip konservasi Borobudur mempunyai peranan penting bagi pengembangan ilmu konservasi terkini dan bisa digunakan untuk menemukan solusi bagi permasalahan konservasi yang ada," kata Arief di kantor Kemendikbud.

 

Dia melanjutkan, naskah cerita Panji diusulkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpunas) RI secara join nomination dengan Malaysia, Kamboja, Belanda, dan Inggris.

 

"Ini atas usaha tak kenal lelah dari Prof Wardiman Djojonegoro bersama tim Perpunas untuk mendapatkan dukungan dari beberapa negara co nominator akhirnya naskah ini berhasil mendapat pengakuan sebagai ingatan dunia," paparnya.

 

Sedangkan arsip tsunami Samudera Hindia diusulkan oleh Arsip Nasional RI secara joint nomination bersama Sri Lanka.

 

Warisan dokumenter ini terdiri atas satu set arsip dalam berbagai media yang mencatat kejadian tsunami Samudera Hindia, tanggap bencana, serta sebagian besar tentang rehabilitasi dan rekonstruksi.

 

 

"Tsunami Samudera Hindia yang terjadi pada 26 Desember 2004 mempunyai ketinggian gelombang melebihi 30 meter dan menimbulkan kerusakan luar biasa di Bangladesh, Indonesia, India, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand, dan 12 negara lainnya. Korbannya mencapai lebih dari 310 ribu jiwa," tutur Arief. (esy/jpnn)

SINGARAJA, RadarPena.com – Dinas Pariwisata Buleleng mengambil langkah strategis mendongkrak kunjungan para wiatan. Gagal menargetkan wisatawan mancanegara, Buleleng pun mengalihkan ke wisatawan domestik (wisdom).

Mereka diharapkan bisa mengisi kamar-kamar hotel di Bali Utara, dan menggeliatkan sektor pariwisata.

Hembusan abu vulkanik ke arah Bandara Ngurah Rai, memang berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan.

Pembatalan penerbangan, membuat wisatawan tak bisa masuk dan keluar ke Pulau Bali.

Dampaknya, sejumlah kamar hotel yang sudah dipesan pun terpaksa dibatalkan karena wisatawan tak bisa datang ke Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan, secara umum aktifitas pariwisata di Buleleng berjalan dengan normal.

Pasalnya destinasi tujuan wisata, berada jauh dari Gunung Agung. Selain itu pusat akomodasi pariwisata juga berjarak cukup jauh dari kaldera gunung.

Menurut Sutrisna penutupan bandara berdampak pada penurunan tingkat hunian di hotel-hotel.

“Sebenarnya turisnya membatalkan pesanan bukan gara-gara erupsi. Tapi karena dia tidak bisa datang ke Bali karena bandara tutup, ya terpaksa cancel,” kata Sutrisna.

Pemerintah pun berupaya mengubah strategi promosi. Kini promosi digencarkan ke wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Wisatawan domestik kini diincar agar mau menghabiskan akhir tahun mereka di Buleleng.

Selain itu Dispar Buleleng juga menggencarkan informasi pemanfaatan bandara alternatif dan akses transportasi pendukung, bila Bandara Ngurah Rai ditutup.

Wisatawan yang diincar juga tergolong spesifik. “Kami incar untuk kegiatan MICE. Jadi yang mau konferensi, pameran, rapat, pertemuan,

kami dorong agar dilaksanakan di Buleleng. Toh jaraknya juga jauh dari Buleleng,” imbuhnya. (jawapos)

DENPASAR, RadarPena.com - Pulau Serangan, tak hanya punya penangkaran penyu. Pulau yang masuk wilayah Bali ini ternyata juga punya wisata edukasi.

Program wisata edukasi yang ada di Pulau Serangan adalah membuat kerajinan dari Kulit Kerang.  Aktivitas yang dikelola secara swadaya oleh kelompok Sea Sell Crafting King Saguna Jaya ini, diperuntukkan  wisatawan yang datang ke Bali yang berniat belajar membuat produk kerajinan berbahan dasar Kulit Kerang.

Ketua Kelompok Sea Sell Crafting King Saguna Jaya, Made Kanan Jaya,  mengatakan, program ini sudah dijalankan sejak awal tahun lalu. “Waktunya tidak terikat ketika momen liburan saja, tetapi kapan saja jika ada wisatawan yang datang dan ingin melakukan kegiatan ini,” jelasnya,ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Serangan pekan kemarin.

Adapun sasaran dari wisata pendidikan ini, lanjut Kanan Jaya,  wisatawan yang mengajak keluarganya ataupun kelompok siswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang ada di Kota Denpasar maupun di seluruh Bali.

Dalam program wisata ini, para siswa akan diajak untuk mengenal beragam jenis kerang endemik yang ada di Pulau Serangan, baik yang masih ada di sekitar laut Serangan ataupun yang kemungkinan sudah punah.

Selain mengenal beragam jenis kerang, wisatawan juga akan diperkenalkan cara pengolahan limbah Kulit Kerang yang bisa dimanfaatkan untuk beberapa jenis produk kerajinan dan aksesoris. “Pemanfaatan limbah kulit kerang ini sudah lama kami lakukan, mengingat limbah kerang di Serangan sangat banyak,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk pengolahan limbah kulit kerang ini, akan dibagi menjadi kelas kerajinan yang dipandu langsung olehnya, yang  dibagi menjadi beberapa sesi, yakni sesi singkat dan sesi panjang.

Sesi singkatnya, wisatawan yang datang akan diperkenalkan cara membuat kerajinan yang tidak begitu rumit, seperti jepit rambut dan bros dari bahan kerang. “Untuk sesi ini bisa memakan waktu hingga dua jam, sedangkan untuk proses pembuatannya hanya memakan waktu sekitar 15 menit bagi pemula,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah kelas dengan sesi waktu yang lebih lama. Untuk kelas ini  bisa memakan waktu mulai 12 jam hingga tiga hari. Kelas panjang ini biasanya diikuti peserta dari luar Bali, seperti Papua, Maluku, dan Makassar.

Biasanya peserta kelas dengan waktu belajar yang lebih panjang ini, lanjutnya, adalah peserta yang memang sengaja dikirim oleh pemerintah daerahnya untuk belajar cara pengolahan Kulit Kerang untuk selanjutnya dipraktekkan di daerahnya.

Karena waktu belajarnya lebih panjang, maka untuk sesi ini,  pihaknya memberikan materi kerajinan yang juga lebihi rumit. Sehingga jenis produk yang dikerjakanpun lebih beragam. Mulai dari lampu meja, nampan, dan beragam jenis produk furniture lainnya.

Diterangkannya, alasan  memberikan beragam jenis materi dalam kelas yang lebih panjang ini, supaya kreativitas dari peserta program ini lebih terasah. Sedangkan untuk peserta kelas singkat tidak mau memberikan materi yang rumit, karena waktunya memang singkat.

Pihaknya berharap  wisatawan yang mengikuti kelas ini bisa menikmati aktivitas membuat kerajinan dengan nyaman. “Kalau produk yang rumit, nanti wisatawan akan bosan, karena prosesnya terlalu lama,” ungkapnya. 

JUNGUT BATU, RadarPena.com - Erupsi Gunung Agung sedikit banyak mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. Meski demikian tidak sedikit wisatawan yang tetap berkunjung ke pulau berjuluk Pulau Dewata ini.

Buktinya pada pagelaran Nusa Penida Festival (NPF) IV 2017 di Pantai Mahagiri, Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan, banyak wisatawan yang hadir. 

Di hari kedua ini beragam lomba pun digelar panitia penyelenggara, salah satu lomba yang cukup menarik perhatian yakni lomba gebug bantal yang digeber di hamparan pasir putih pantai dengan panorama Gunung Agung di seberang lautan. Bahkan serunya permainan ini tak menyurutkan para turis untuk turut serta dalam lomba yang diikuti puluhan peserta tersebut.

Pantauan saat lomba ini digelar pagi kemarin menunjukkan, antusiasme wisatawan asing yang tengah berlibur di Nusa Penida tersebut. Hal itu terlihat saat proses pendaftaran peserta dilakukan. Mereka dengan penuh semangat mencatatkan namanya untuk bisa ambil bagian dalam permainan sederhana itu bersama dengan masyarakat setempat. Ketertarikan mereka pun tak lepas dari ajang gebug bantal yang jarang dipertandingkan.

Anderson, salah seorang peserta asing dari Amerika Serikat mengaku sengaja ikut ambil bagian karena memang sudah diundang untuk ikut dalam acara tersebut. Dirinya pun tak menyangka jika permainan yang dia ikuti itu sangat menyenangkan dan menarik, serta menambah keakraban wisatawan dengan warga setempat. Karena itu dia pun senang dan bangga bisa ikut ambil bagian di lomba kemarin. “Permainannya menarik dan menyenangkan. Saya senang bisa ikut dalam lomba ini,” ucapnya.

Karena itu, pengalamannya bisa ikut dalam permainan tersebut serta bisa menikmati keindahan Nusa Penida bersama kerabatnya saat liburannya kali ini, menambah keinginannya untuk bisa datang lagi ke Nusa Penida dan Lembongan. Bahkan dia berharap jika tahun depan even ini kembali digelar dan dirinya bisa berlibur ke Nusa Penida dan Lembongan, dia pastinya akan ikut ambil bagian lagi. “Saya berharap tahun depan bisa datang lagi ke sini, dan ikut lagi dalam lomba ini,” harapnya.

Selain lomba gebug bantal, sepanjang hari kemarin juga dilangsungkan lomba-lomba lainnya, seperti lomba gala-gala yang diikuti siswa SD se-Nusa Lembongan. Lomba ini pun menjadi upaya memupuk kembali generasi muda sebagai langkah pelestarian terhadap permainan tradisional.

Tak hanya lomba tersebut, di hari kedua kemarin panitia juga menggelar lomba merangkai perani. Lomba diikuti tiga tim dari karang taruna/sekaa terua di Desa Jungutbatu Nusa Lembongan. Setiap tim terdiri dari tiga orang yang dengan cekatan merangkai setiap bahan yang mereka siapkan. Mulai menjarit janur, merangkai buah hingga membuat pernak-pernik lainnya sebagai penghias.

Menurut Panitia Bidang Kerohanian Jero Mangku Nyoman Arsana, ada empat kriteria penilaian dalam lomba ini. Diantaranya kelengkapan bahan yang disajikan, kerjasama tim, estetika keindahan dalam merangkai dan waktu pengerjaan.

Ada sembilan jenis bahan hasil bumi, baik laut, danau dan darat yang digunakan mewakili pala bungkah dan pala gantung. “Jumlah sembilan itu sesuai dengan pengider buana atau nawa sanga sebagai persembahan ucapan terimakasih kepada Tuhan atas anugerah yang dilimpahkan. Selain itu, kriteria kelengkapannya itu yang berupa sembilan jenis hasil bumi, mewakili populasi baik di laut, danau dan darat,” ucapnya. (jawapos)

PEMUTERAN, RadarPena.com - Mulai 13-16 Desember akan digelar festival berbasiskan masyarakat, seni dan  budaya bertajuk Pemuteran Bay Festival 2017. Ajang ini menjadi momen wisatawan untuk menjajal menawannya objek wisata di desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng, Bali.

Di tengah keluarnya travel warning dari sejumlah negara akibat efek erupsi Gunung Agung, yang mengakibatkan menurunnya kunjungan wisata ke Bali,  membuat cemas, bahkan pesimis pelaku pariwisata bisa membalikkan keadaan dengan cepat. Namun dalam situasi yang tak menentu ini, justru sikap optimisme tumbuh dan muncul dari kawasan Bali Barat, Desa Pemuteran. 

I Gusti Agung Bagus Mantra, salah seorang pelaku pariwisata di kawasan Pemuteran yang  terlibat dalam event Pemuteran Bay Festival, mengatakan,  event ini  sejatinya telah diagendakan dalam agenda event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan telah  dipromosikan jauh jauh hari sebelumnya, melalui kegiatan roadshow serta pameran pariwisata di luar negeri. Festival ini, lanjutnya, dipersembahkan dengan semangat kebersamaan dan konservasi lingkungan.

"Semoga dapat memberi manfaat kepada masyarakat, serta menjadi daya tarik wisawatan domestik maupun mancanegara sebagai  bonus liburan mereka di Bali di akhir tahun ini," beber pria  yang menjadi penggagas juga festival founder  Pemuteran yang mengelola sejumlah villa di kawasan Bali Barat ini, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (5/12) kemarin di Pemuteran, Singaraja.

Dalam festival ini, lanjut owner Pregina Art & Showbiz Bali ini, akan diselenggarakan doa bersama dan pergerakan kebersamaan kemanusiaan untuk membantu para pengungsi Gunung Agung. 

Terkait travel warning, diakuinya memang sangat berdampak terhadap kedatangan wisatawan. Namun, sejauh ini jika mereka mengetahui keadaan sebenarnya, lanjutnya, mereka tetap datang justru memberi support terhadap Bali yang sementara ini masih dalam status yang belum bisa diprediksi kedepannya.

"Setiap langkah tentunya perlu pertimbangan yang matang dalam penyelenggaraan event festival khususnya, karena persiapan sudah dilaksanakan jauh jauh hari sebelumnya, jadi kita mesti positif thingking tetap berupaya," ujarnya.

Ditambahkannya, dari sisi festival kegiatan ini menjadi portfolio konten promosi yang berdampak panjang, dapat digunakan berkesinambungan sebagai bahan promosi pengenalan potensi wilayah.

Dikatakannya,  masyarakat Desa Pemuteran melalui Ikatan Pelaku Pariwisata Pemuteran (IP3), Yayasan Karang Lestari Pemuteran, serta dukungan pemerintah Kabupaten Buleleng dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, bekerja secara bersama dan telah melakukan persiapan jauh jauh hari sebelumnya untuk dapat mewujudkan Festival Pemuteran di tahun 2017 ini.

Tak ditampiknya bahwa potensi Desa Pemuteran sangat luar biasa. Berbagai penghargaan nasional dan internasional  diraih oleh Desa Pemuteran, menjadikan masyarakat Desa Pemuteran dengan semangat kebersamaan untuk tetap dapat berbagi dan menggemakan  semangat konservasi lingkungan, terutama terumbu karang melalui penyelenggaraan festival ini. 

Penghargaan yang diraih Desa Pemuteran, seperti  PATA Gold Award, Equator Prize Award UNDP, UNWTO Gold Award, dan berbagai penghargaan international lainnya. " Penghargaan  teranyar  yang diraih adalah ISTA Gold Award. Penghargaan ini diperoleh  berkat kerjasama semua lapisan, yaitu masyarakat, industri pariwisata, pegiat konservasi serta dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng," urainya.

Penyelenggaraan festival di tahun  ini diharapkan menjadi momentum oleh masyarakat Desa Pemuteran, untuk tetap menjaga dan mengembangkan dengan baik dan benar potensi desa, serta terus memperkenalkan dan mempromosikan ke dunia international.

Teluk Pemuteran dengan keindahan dan vibrasi harmoni alamnya,  menjadi salah satu tempat  damai untuk aktivitas spiritual. Jadi, dalam festival tahun ini juga fokus  memperkenalkan potensi wilayah melalui kegiatan spiritual olah jasmani dan rohani dengan yoga yang diselengarakan setiap hari pagi dan sore, mulai  14 -16 Desember .

Sejumlah  instruktur dan pegiat yoga  terlibat, di antaranya Anjasmara, Prisciliia, Bunda Dian Kania, Guru Made Sumantra, Instruktur Yoga Markandeya, Made Sulendra, dan Joni Agung. "Kegiatan Yoga ini terbuka untuk umum ,gratis selama kegiatan festival," terangnya.

Soal kuliner dan pertunjukan seni, juga dihelat setiap harinya selama 4 hari di lokasi Tanjung Budaya Pemuteran. Diisi dengan pameran seni kreatif serta industri pariwisata bahari, dan bazaar kuliner yang akan dibalut dengan pertunjukan seni budaya tradisi kontemporer dan musik.

Seniman Buleleng serta artis kenamaan Bali seperti Gus Teja World Musik, Joni Agung Double T, The Bodhi, Small Axe, Bintang, Relung Kaca, Gde Bagus X Factor, Rastafara Cetamol, Benih Kasih, akan turut memeriahkan acara.  

"Pada parade pembukaan akan dipersembahkan potensi seni budaya Pemuteran melalui parade busana kreasi kontemporer, marching band, jawara baleganjur dan tari kolosal Mutering Jagat," terang pria yang akrab disapa Gus Mantra ini.

Persembahan kuliner dan pertunjukan seni ini, lanjutnya,  selalu menjadi daya Tarik wisatawan serta masyarakat pada umumnya, karena mereka dapat menikmati beragam kemasan yang menyatu dalam kemeriahan.

Kemeriahan tak akan berhenti sampai di situ, karena ada lari yang dikemas dengan kemeriahan permainan tabur warna sebagai penutup festival. "Peserta akan dilepas di Pantai Bukit Ser, kemudian  berlari bergembira menyusuri Teluk Pemuteran hingga finish di Tanjung Budaya Dalem Pemuteran , yang berjarak kurang lebih 3 km " ujar Gus Mantra.

Lomba mancing, menggambar dan fotografi juga menjadi kemeriahan lainnya di ajang ini.

Ajang menarik lainnya, ada Plasticology Workshop yang  dipersembahkan oleh pegiat seni olah sampah plastik Made Bayak, yang  akan mengajak anak anak serta generasi muda untuk dapat berkreasi melalui media sampah plastik.

Para fotografer juga akan terlibat dalam sesi foto hunt yang akan dilombakan dengan metode fun foto hunt, dengan berbagai objek foto dari tradisi hingga keindahan alam, di mana sebelumnya akan diberikan workshop secara gratis oleh Dewandra Djelantik tentang Hospitality Commercial Fotografi.  

Maskot Garuda Konservasi Terumbu Karang

Pemuteran Bay Festival  2017 ini,  merupakan tahun pertama festival yang diselenggarakan di Pemuteran dengan mengangkat nama Pemuteran. Di mana dua tahun berturut  sebelumnya, festival diadakan dengan nama BBDF ( Buleleng Bali Dive Festival). 

Dikatakan Gus Mantra, setiap penyelenggaraan festival,  Pemuteran selalu menampilkan maskot seni sebagai akar konservasi. "Tahun ini Garuda adalah maskot dari festival, yang akan ditampilkan dalam bentuk dua karya patung Garuda dengan kombinasi ulatan besi  yang akan ditenggelamkan sebagai maskot konservasi struktur terumbu karang dengan teknologi biorock, " urainya.

Dipilihnya maskot Garuda, lanjut Gus Mantra,  karena Garuda bagi kepercayaan masyarakat Hindu Bali adalah kendaraan suci Dewa Wisnu sebagai dewanya  laut ( Baruna), serta Garuda sebagai lambang Negara.

Sampai saat ini lebih dari 77 struktur terumbu karang yang ada di bawah laut Pemuteran.

"Patung Garuda sebagai maskot konservasi ini akan diresmikan 13 Desember 2017,  ditenggelamkan 14 Desember pukul 14.00 Wita.  Proses instalasi Garuda ini akan melibatkan lebih dari 50 penyelam dan masyarakat," ulasnya.

Terkait dengan konservasi terumbu karang dengan metode biorock,  lanjutnya, pada tahun ini kembali diadakan workshop pengenalan dan pendalaman metode konservasi terumbu karang dengan teknologi biorock di Biorock Centrekarang Lestari Pemuteran.

Desa Pemuteran yang berada di Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, tahun 2016 masuk dalam daftar rekomendasi tujuan wisata di Asia 2016 versi Lonely Planet. Pemuteran mengalahkan Kepulauan Trang di Thailand, Meghalaya di India, dan Taitung di Taiwan. Situs Lonely Planet mengakui pemandangan alam bawah laut yang menakjubkan merupakan alasan utama untuk menyambangi Pemuteran.

Di Pemuteran, wisatawan bisa menikmati aneka aktivitas wisata bahari, seperti snorkeling, jet ski, diving, atau melihat terumbu karang melalui kapal beralas kaca. Selain kawasan terumbu karang, Desa Pemuteran juga menawarkan kegiatan ekowisata penangkaran penyu.Berbeda dengan pantai-pantai di kawasan Bali Selatan, Pantai Pemuteran cenderung lebih tenang. Kebanyakan wisatawan mancanegara datang ke Pemuteran  untuk mencari ketenangan dan menjadikan tempat ini  sebagai tempat bermeditasi. 

MATARAM, RadarPena.com - Erupsi Gunung Agung Bali sangat dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata khususnya di Bali dan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Karenanya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan langkah strategis dan mengganggarkan Rp 6 miliar untuk memulihkan sektor pariwisata diwilayah tersebut.

Hal ini di ungkap Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar  I Gde Pitana dalam Rapat Strategis Antisipasi Dampak Gunung Agung, di Hotel Lombok Astoria Mataram.

Anggaran Rp 6 miliar tersebut menurut Gde Pitana tidak dibagi ke Pemerintah Provinsi Bali atau NTB, tetapi akan dibuatkan

program agar wisatawan bisa mendapatkan informasi yang jelas sehingga keadaan pariwisata di Bali dan NTB bisa kembali normal.

Untuk itu, Kemenpar akan menggandeng CNN, Trip Advisory, Bloomberg bahkan Google, dalam meluruskan kondisi kedua daerah destinasi wisata yang telah mendunia itu. 

"Dalam kondisi saat ini aspek terpenting adalah informasi yang jelas dan mudah diakses wisatawan maupun calon wisatawan yang akan datang ke Bali maupun Lombok," ungkapnya dilansir Jawapos, Rabu (6/12).

Mantan Kadispar Bali ini menjelaskan, kondisi sekarang di Bali dan Lombok masih aman dikunjungi.

Kecuali kawasan rawan bencana (KRB) dengan radius 12 Km. Karena itu, para wisatawan tidak perlu kuatir mengunjungi kedua wilayah tersebut.

Kadispar NTB Muhammad Lalu Faozal menyebut, dampak dari erupsi Gunung Agung ini merupakan persoalan yang serius bagi sektor pariwisata di NTB.

Kondisi ini bisa berdampak pada target kunjungan wisatawan ke NTB yang dicanangkan 3,5 juta wisatawan ke NTB, tapi baru tercapai 80 persen.

Padahal, libur akhir pekan lalu sangat diharapkan dapat mendukung untuk menenuhi target tersebut.

"Sedikitnya 3.000 pemesanan kamar hotel di Lombok dibatalkan. Belum lagi, ratusan pembatalan kunjungan melalui biro perjalanan wisata," paparnya

Faozal menambahkan, penurunan hunian hotel di Lombok hingga mencapai 40 persen dan ada juga satu hotel di Lombok kehilangan 1.800 room night.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, hotel-hotel di Lombok memberikan diskon hingga 50 persen. Bahkan, ada hotel di Senggigi yang memberikan Lunch gratis bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok. 

"Dalam kondisi seperti ini kita tidak boleh duduk diam dan merenung, kita harus segera mengambil langkah untuk memulihkan sektor pariwisata, salah satunya dengan mengadakan rapat stategis ini", ujar Faozal.